Sejuta Pesona Wisata Sumenep, Madura
Pulau Madura lebih dikenal sebagai tempat penghasil garam dan
karapan sapinya. Padahal di Pulau ini banyak tersimpan kekayaan wisata
yang patut untuk dikunjungi. Sebutlah daerah wisata di Sumenep.
Kabupaten ini mempunyai potensi wisata yang dijamin tak akan bisa
dikunjungi hanya dalam waktu sehari.
Kabupaten
Sumenep berada di ujung paling Timur Pulau Madura yang dapat ditempuh
dari pelabuhan Janjung Perak, Surabaya. Dari pelabuhan Kamal, Madura
Anda dapat melanjutkan perja lanan dengan menggunakan kendaraan pribadi
atau travel yang banyak ditawarkan disana. Perjalanan ke Kabupaten
Sumenep memakan waktu sekitar 4 jam.
Pulau Madura yang dikelilingi laut, menghadirkan keindahan pantai
yang menakjubkan. Pantai Lombang (baca: Lombeng), di Desa Lombang
Kecamatan Batang-batang 30 km sebelah timur Sumenep, berombak tenang dan
jernih airnya. Hamparan pasir putihnya terasa bersih dan lembut di
kaki, cocok sebagai tempat berjemur dan menikmati panorama terbit dan
terbenamnya matahari . Menggunakan pasir sebagai ka sur tidur adalah
kebiasaan turun temurun penduduk sekitar. Disekeliling pantai sepanjang
12 km ini, berjajar tanaman cemara udang membentuk pohon cemara udang
raksasa. Cemara uda ng yang khas di pantai ini, budidaya nya adalah yang
terbesar untuk seluruh Indonesia, bahkan di dunia . Anda dapat membawa
tanda mata cemara udang ini dengan harga termurah 20 ribu rupiah dan
termahal hingga jutaan rupiah.
Pantai lain yang tak kalah indahnya adalah Pantai Slopeng, 21 km arah
utara kota Sumenep. Mudah dicapai dengan kendaraan pribadi maupun
transportasi umum. Hamparan pasir putihnya membentang luas dihiasi oleh
bukit-bukit pasir yang mempesona. Kejern ihan air dan ombaknya membuat
betah berlamalama sembari berenang atau sekedar mandi matahari. Panorama
pohon palm yang tumbuh diantara perbukitan pasir, membuat Anda merasa
rileks menikmati lukisan alam nan indah ini.
Sempatkan mampir di pelabuhan Kalianget. Sebagai pintu gerbang utama
Kabupaten Sumenep melalui laut, pelabuhan ini terbagi menjadi dua
bagian. Oermaga Utara dikhususkan untuk kapal PT. Garam dan kapal Feri
yang datang dari pelabuhan Jangkar Situbondo. Sedangkan dermaga satunya
digunakan untuk merapat kapal-kapal yang berlayar ke Sumenep Kepulauan.
Kepulauan Kangean di seberang pelabuhan, terdiri dari beberapa gugusan
kepulauan kecil berisi 30 pulau membentang di wilayah Sumenep bagian
Timur. Pulau besarnya antara lain : P. Kangean (di pulau ini terdapat
tempat wisata gua Kuning), P.Saobi, Paliat, Sabunten, Sapeken, Saseel,
dan Sepanjang. Sedangkan pulau yang agak kecil diantaranya adalah Pulau
Saur, Sebus, Kemaron, dan P. Bungin (terkecil).
Wisata Sejarah dan Budaya
Obyek lain yang menarik adalah obyek wisata sejarah dan budaya. Coba
kunjungi museum yang terletak di depan kantor dinas Pariwisata Sumenep.
Di sinilah tersimpan bendabenda peninggalan bersejarah raja-raja Sumenep
juga kereta kebesaran yang digunakan oleh Arya Wiraraja. Kereta ini
dikeluarkan pada setiap acara prosesi peringatan hari jadi Kabupaten
Sumenep tanggal 31 Oktober. Juga ada kereta kencana peninggalan Sultan
Abdurrahman Pakunataningrat (1812-1854), yang ternyata adalah hadiah
dari kerajaan Inggris. Yang lain adalah sarana pengadilan dan
perlengkapan pemerintahan Raden Ayu Tumenggung Tirtonegoro (1750-1762).
Disini pula tersimpan Our’an yang merupakan tulisan tangan Sultan
Abdurrahman yang konon ditulis dalam waktu sehari semalam.
Saatnya memasuki area Kraton Sumenep. Kraton ini dibangun pada tahun
1762 oleh Panembahan Semolo yang bergelar Tumenggung Arya Noto Kusumo
(1762 -1811 ). Untuk keluar masuk, dibangun sebuah pintu besar yang
diberi nama Labang Misem (Madura: pintu senyum). Terdapat
sebuah kaca besar yang dahulunya diperuntukkan bagi tamu yang harus rapi
sa at menghadap raja. Disamping kiri Pendopo Agung terdapat Taman Sare
yang merupakan pemandian para putri raja. Air jernih di pemandian yang
kini masih dipergunakan ini, dipercaya dapat melancarkan jodoh, awet
muda, lancar rejeki, dan kemudahan dalam memperoleh ilmu.
Masjid Agung Sumenep yang berada di tengah kota merupakan salah satu
masjid tertua di Indonesia, dibangun tahun 1763 oleh Panembahan Sumolo.
Pembangunan masjidnya menghabiskan waktu 6 tahun, menggunakan bahan
pilihan. Dalam menyusun batu temboknyapun menggunakan bahan perekat air
nira, yang saat itu tergolong jarang di dapat di wilayah Sumenep.
Bangunannya yang berarsitek Islam, Cina, dan Eropa membuat Masjid ini
terasa unik.
Luangkan waktu berziarah di Asta Tinggi yang merupakan makam
raja-raja Sumenep, dibangun tahun 1763. Lokasinya di desa Kebun Agung,
2,5 km barat laut Sumenep. Makam ini hampir tidak pernah sepi dari
peziarah, baik yang datang dari sekitar wilayah Madura maupun dari luar
Madura.
Beberapa budaya tradisional Madura akan menyedot perhatian Anda.
Musik Saronen misalnya, adalah musik dan tarian pengiring regu kerapan
sapi sebelum maju ke medan laga. Didominasi sua ra terompet dan tabuhan
gong yang bertalu-talu, musik ini biasa dima inkan oleh kaum pria
dengan kostum yang berwarna mencolok dan tampak meriah. Sedangkan
Kerapan sapinya terkenal unik dan menarik, dapat Anda saksikan pada
bulan Agustus atau Oktober. Ada pula upacara ritual Nyadar, di Desa
Kebun dadap sekitar 8 km dari Sumenep, dilaku kan untuk mengenang jasa
nenek moyang penduduk desa. Tengok pula tari Muangsangkal, tarian khas
keraton Sumenep untuk menolak sangkal/ bala dan biasa digunakan untuk
penyambutan tamu . Penari menaburkan beras kuning yang menggambarkan
harapan dan doa masya rakat Sumenep kepada Tuhan Yang Maha Esa agar
terhindar dari bala atau bencana. Topeng Dalang, adalah kesenian teater
rakyat, sering mengambil cerita dari kisah Mahabrata. Diiringi oleh
gamelan, seluruh penarinya menggunakan topeng kayu yang dihasilkan dari
pengrajin setempat. Topeng kayu ini menurut cerita dipercaya mempunyai
kekuatan magis.
Banyaknya pesona wisata di Sumenep ini mung kin membuat Anda harus
menginap di sini. Beberapa hotel ke las melati bisa menjadi pilihan.
Sebagai oleh-oleh, dapatkan hasil kerajinan industri kecil yang cukup
banyak terdapat di Kabupaten ini, seperti kerajinan ukiran kayu dengan
model dan warna yang khas, kerajinan keris yang dapat ditemui di Desa
Aengtong tong Kecamatan Saronggi sekitar 5 km barat laut Sumenep, serta
batik tulis yang khas warna dan motifnya . Sentra industri batik tulis
terdapat di Desa Pakandangan Barat Kecamatan Bluto.
Artikel dinukil Tim dari koleksi
Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
CARAKAWALA – Nopember 2004, hlm. 8
Sabtu, 26 Oktober 2013
Ajam sap-sap, Kabupaten Sumenep
Bentuk dan Waktu Permainan
Ajam sap-sap berarti ayam dilombakan jauh terbangnya, pasangan ayam betina yang dibawa ke laut dengan perahu, sejauh 300 meter dari pantai, kemudian dilepaskan terbang ke arah daratan. Permainan rakyat ini hanya terdapat di daerah kecamatan Ambunten, di desa-desa Campor Timur, Campor Barat dan Bellu’ Ares, jarak 25 km dari kota Sumenep. Desa-desa tersebut adalah desa pesisir utara Kabupaten Sumenep yang tak jauh letaknya dari daerah Slopeng, yang dijadikan obyek Pariwisata karena bukit-bukit pasir putihnya yang indah. Di lain mpat di Madura tidak terdapat permainan rakyat yang serupa ini. usat permainan Ajam sap-sap ini adalah di desa Campor Timur yang memiliki pantai landai dan berpasir putih. Di pantai itu pula perlombaan Ajam sap-sap diselenggarakan. Desa-desa Campor Barat dan Bellu’ Ares tidak memiliki daerah pantai yang sebaik daerah Campor Timur, sehingga mereka mempergunakan juga pantai Campor Timur tersebut sebagai tempat perlombaan Ajam sap-sap-nya. Ketiga desa tersebut letaknya berdekatan satu dengan yang lain.
PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 115-123
Ajam sap-sap berarti ayam dilombakan jauh terbangnya, pasangan ayam betina yang dibawa ke laut dengan perahu, sejauh 300 meter dari pantai, kemudian dilepaskan terbang ke arah daratan. Permainan rakyat ini hanya terdapat di daerah kecamatan Ambunten, di desa-desa Campor Timur, Campor Barat dan Bellu’ Ares, jarak 25 km dari kota Sumenep. Desa-desa tersebut adalah desa pesisir utara Kabupaten Sumenep yang tak jauh letaknya dari daerah Slopeng, yang dijadikan obyek Pariwisata karena bukit-bukit pasir putihnya yang indah. Di lain mpat di Madura tidak terdapat permainan rakyat yang serupa ini. usat permainan Ajam sap-sap ini adalah di desa Campor Timur yang memiliki pantai landai dan berpasir putih. Di pantai itu pula perlombaan Ajam sap-sap diselenggarakan. Desa-desa Campor Barat dan Bellu’ Ares tidak memiliki daerah pantai yang sebaik daerah Campor Timur, sehingga mereka mempergunakan juga pantai Campor Timur tersebut sebagai tempat perlombaan Ajam sap-sap-nya. Ketiga desa tersebut letaknya berdekatan satu dengan yang lain.
Permainan Ajam sap-sap ini diselenggarakan pagi hari
di musim kemarau, waktu laut tidak bergelombang besar dan begitu pun
angin dari darat ke laut tidak kencang. Keadaan yang demikian ini adalah
keadaan yang sangat baik, sehingga ayam yang dilepas dari atas perahu
di lautan dapat terbang tinggi dan hinggap jauh di darat. Demikianlah,
sepasang-demi sepasang ayam-ayam tersebut dilepas, dilombakan jauh
terbangnya, hingga keadaan laut dan angin tidak memungkinkan lagi untuk
terus diselenggarakannya permainan tersebut. Tentang penentuan hari
perlombaan tidak terikat, tergantung pada persetujuan bersama dan juga
tergantung pada keadaan alam yang memungkinkan.
Latar Belakang Sosial Budaya.
Telah dijelaskan di atas bahwa ketiga desa penggemar
Ajam sap-sap tersebut terletak di daerah pesisir Utara Kecamatan Ambun-
ten Kabupaten Sumenep.
Daerahnya dilihat dari kondisi pertaniannya, termasuk
daerah sedang sekalipun ladang-ladangnya untuk bisa ditanami tergantung
pada hujan.
Selain sumber mata pencahariannya dari pertanian
Tane-penggir se- reng tapi sebagian penduduknya juga merangkap bermata
pencaharian sebagai nelayan. Dengan dua sumber mata pencaharian
tersebut, hidup ketiga penduduk-desa tersebut agak terjamin. Selain itu,
hampir setiap keluarga memelihara ternak sapi dan unggas terutama ayam.
Penduduk ketiga desa tersebut tidak padat, rata-rata
setiap desanya berpenduduk sekitar seribu orang. Semua penduduknya
beragama Islam dan hampir seluruhnya adalah merupakan penduduk suku
Madura.
Lembaga pendidikan di desa-desa tersebut hanya terdiri
dari SD Negeri dan Madrasah. Sebagaimana penduduk Madura lainnya, mereka
masih kuat memeluk dan melaksanakan ajaran agamanya.
Adat-istiadat leluhurnya masih kuat juga dijalankan,
terutama di kalangan penduduk pedesaan. Penduduk desa-desa tersebut
masih me: laksanakan rokad tase (sedekah laut) dan nyalameddi
disa (menye- lamati desa yang sama dengan upacara bersih desa).
Pengaruh ulama besar sekali terhadap sikap penduduk pedesaan Madura. Di
daerah Sumenep, seringkah magis masih mempunyai peranan dalam
bidang-bidang kehidupan masyarakat, lebih-lebih dalam suatu permainan
yang dilombakan. Paling tidak menta rat-sarat minta bantuan doa kepada
Kyai atau Dukun agar menang. Ada yang berpuasa atau nyeppe mengasingkan
diri untuk nyare jajana mencari jayanya agar menang. Selain magis
memegang peranan dalam permainan ini, juga dijadikan obyek perjudian.
Menurut Suparto (40 tahun), permainan ini sudah
berlangsung sejak dahulu. Asal permainan ini dari penduduk desa Campor
Timur. Dulu, secara tidak sengaja, waktu dilangsungkan rokad tase,
dilakukan selamatan untuk yang baureksa laut selain membawa kepala sapi
dan saji-sajiari serta bunga-bungaan, juga ada yang membawa ayam
sebagai pelengkap rokad. Rupa-rupanya ada seekor ayam yang terlepas
dari pengikatnya, lalu terbang nyapsap ke darat. Melihat kejadian
tersebut yang sekaligus tampak merupakan hal yang menarik, maka mulailah
pada hari-hari berikutnya beberapa orang mencoba mengulangi kejadian
tersebut. Dengan membawa beberapa ekor ayam jantan dan betina,
orang-orang itu berperahu ke tengah laut dan melepaskannya ke arah
darat. Ayam-ayam tersebut ada yang tercebur ke laut, ada yang terbang
jauh ke darat sekalipun menentang angin. Agaknya yang banyak berhasil
sampai jauh ke darat dan tampak terbang bagus sekali, ialah ayam-ayam
betina. Mulailah mereka memilih jenis ayam betina muda (ayam pandara’an)
yang memenuhi syarat-syarat, agar dapat terbang jauh ke darat. Atas
dasar dari pengalaman dengan mengadakan percobaan berkali- kali akhirnya
didapati jenis ayam yang baik untuk ikut dalam lomba Ajam sap-sap.
Mereka juga penggemar melihat ‘Kerapan Sapi’. Tapi
karena biaya pemeliharaan dan penyelenggaraannya agak sulit dan mahal,
sedangkan sapi bagi mereka adalah sebagai pembantu utamanya untuk
pertaniannya, maka permainan Ajam sap-sap-lah yang dijadikan obyek
hiburan yang menarik dan meriah. demikianlah, perlombaan Ajam sap-sap
yang selain
merupakan tontonan hiburan yang meriah dan mengasyikkan,
merupakan permainan masyarakat yang memperluas pergaulan, juga
dikaitkan dengan usaha menternakkan jenis ayam kampung yang baik.
Seperti halnya tanaman jagung, yang bagian terbesar petani Madura masih
tetap menanam jenis jagung Madura yang sekalipun kecil- kecil tapi enak
rasanya, katanya. Begitu pula dalam menternakkan ayam, mereka tetap
menternakkan ayam kampung jenis terbaik, katanya, dagingnya enak serta
tahan penyakit.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, perlombaan
permainan Ajam sap-sap adakalanya diselenggarakan antara beberapa
anggota masyarakat sedesa (perorangan), adakalanya diselenggarakan oleh
seluruh warga desa, adakalanya merupakan perlombaan antar tiga desa
tersebut.
Di samping perlombaan yang diusahakan secara perorangan
seringkah diusahakan oleh perkumpulan-perkumpulan ajam sap-sap atau
bersifat arisan. Kalau secara umum menyeluruh dikenal dengan Kambrat
Kalau ada perlombaan ajam sap-sap, pantai desa Campor Timur berubah
menjadi ramai sekali, laki-laki, perempuan, tua muda, anak-anak
membanjirinya. Ada yang ikut serta melombakan ayamnya, ada yang hanya
menonton, ada yang berjualan dan ada pula yang menjadikan permainan
tersebut sebagai arena perjudian gelap.
Hadiah bagi pemenangnya tak seberapa berharga. Misalnya
saja dalam perlombaan yang diselenggarakan secara arisan, hadiah bagi
pemenang pertama hanya sebatang rokok kretek. Jadi J;ujuan utama
permainan ini adalah semata-mata sebagai hiburan rakyat. Apalagi bila
diselenggarakan kambrat ajam sap-sap diramaikan dengan gamelan sronen,
makin ramailah pantai yang biasanya sunyi lenggang, karena memang agak
jauh dari lokasi perkampungan. Sayang sekali, permainan rakyat yang
murah meriah ini sekarang dilarang oleh alat negara setempat, karena
alasan dijadikan arena judi.
Peserta dan Perlengkapan Permainan
Peserta dari permainan ini, adalah ayam itu sendiri.
Ayam yang ikut dilombakan haruslah ayam yang baik. Yaitu dipilih ayam
betina yang masih pandara’an (yang masih perawan), berbulu halus lunak
(abulu lemmes), sopet rapet supit rapat, nyan-menyanan rap?fbagian
tubuh di bagian ekor rapat, Bunto keneop (ekor merunduk) dan sesesse
sapokol (sisik kaki sepikul tak putus). Selain itu jugasesse selbi
(sisik belakang kaki ada tonjolannya) yaitu di bagian kette (kaki bagian
belakang) yang katanya jaja (jaya sakti), musuh yang terbang di
depannya bisa jatuh. Ayam tersebut pantang diberi makan nasi, makanannya
khusus yaitu beras jagung diaduk dengan merah telur sehari dua kali.
Minumnya sehari sekali yaitu air masak. Selain itu diberi ramuan jamu
tradisional, antara lain racegan (campuran) kapu- laga, enggu dan
sebagainya. Pemeliharaannya secara khusus dengan kandang tersendiri,
sebab ayam tersebut dipantang digauli ayam jantan. Artinya ajam sap-sap
tersebut tidak untuk ayam telur, malah tak diharapkan untuk bertelur,
agar kuat. Mengapa tidak dipilih ayam jantan saja, jawabnya karena tidak
dapat terbang jauh dan tak selincah ayam betina.
Tentang berapa pasang ayam yang dilombakan, hal ini
tergantung pada bentuk pertandingan. Kalau usaha perorangan, tentu
tidak banyak. Tapi kalau kambrat bisa mencapai tujuh puluh ekor ayam
(35 pasang). “Sa’ocolan” (sekali lepas) hanya sepasang ajam sap-sap
yaitu dua ekor ayam. Bila tujuh puluh ekor yang ikut berlomba, maka tak
dapat diselesaikan sehari, sebab kondisi alam yang baik (cuaca, angin,
gelombang) hanya berlangsung beberapa jam, yaitu jam 07.00 — 09.00 pagi
hari. Selain itu seusai permainan, mereka kembali kekewajibannya
masing-masing yaitu ke ladang, ke pasar, dan ke laut. Perlengkapan
permainan selain ayam yang akan dilombakan juga diperlukan beberapa
perahu untuk membawa ayam-ayam tersebut ke laut, pattok (tunggak bambu)
di laut untuk batas pengo- colati (pelepasan) seutas tali panjang
sebagai batas hinggap minimal (ompal) dan seutas tali pengukur untuk
mengukur sejauh mana ayam hinggap di tanah setelah terbang di atas laut.
Biasanya ayam yang terbang dan hinggap ke tanah terus diam tak beranjak, sehingga mudah mengukurnya dan menangkapnya.
Jalan permainan dan Iringan Gamelan.
Sehari sebelumnya ayam-ayam di daftar pada panitia. Pemilik harus membawa ayamnya untuk dilihat dan diperiksa oleh panitia, aPa memenuhi syarat. Juga ditulis siapa pemiliknya, berapa ekor ayam yang diikutkan dalam perlombaan ini dan nama-nama ayam Peserta. Ayam-ayam peserta tersebut di beri nama seperti : se seset
capung, se pelor sipeluru, se gapper si kupu-kupu dan
sebagainya Yang disebut panitia adalah terdiri dari Ketua (yang ahli
ayam dan peraturan permainan) yang bertindak pula sebagai wasit
permainan dibantu dua orang penjaga garis dan beberapa orang yang
meneliti tempat pertama jatuhnya ayam yang juga sebagai pembantu
pengukur.
Peserta-peserta pada hari perlombaan diundi dan diberi
nomor. Sehingga baru pada hari perlombaan tersebut pemilik-pemilik ayam
tersebut tahu lawan ayam-ayamnya. Pengambilan nomor undian dilaksanakan
pagi-pagi sebelum perlombaan dimulai. Sekira jam 07.00 pagi, dimana
keadaan cuaca, angin dan gelombang dalam keadaan baik untuk kondisi
perlombaan, maka perlombaan dimulai. Sebelumnya wasit dan penjaga garis
memeriksa perlengkapan, misalnya apa tali sudah dipasang di tempatnya,
apa perahu-perahu dengan awak perahunya sudah siap. Tali batas minimal
hinggap direntangkan di batas tertinggi air/ombak laut pasang saat itu.
Juga direntangkan tali batas penonton, agar para penonton tak memasuki
arena perlombaan yang mungkin menakutkan ayam dan menyulitkan panitia
Setelah semuanya siap, ayam dibawa pemiliknya atau orang kepercayaannya
masing-masing naik perahu ke laut, menuju ke patokan sebagai g&ris
pelepasan ayam.
Sampai di patokan,perahu ditempatkan menyilang, satu
sisi menghadap ke darat dan sepasang ayam sesuai dengan nomor
undiannya, disiapkan untuk dilepaskan, hanya menunggu tanda dari wasit
di darat. Sebelumnya, sebagai syarat kakimasing – masing ayam dicelupkan
dalam air laut disertai doa untuk menang. Setelah ada tanda dari wasit
di darat untuk dilepaskan, maka kedua ayam yang sudah dihadapkan ke
jurusan darat itu dilemparkan ke udara setinggi mungkin, agar bisa
langsung terbang tinggi ke darat. Cara memegang, kemudian melepaskan dan
melemparkan ayam ke udara dengan muka tetap menghadap ke darat, adalah
membutuhkan keahlian tersendiri. Apalagi dilepaskan di atas perahu yang
sedikit oleng oleh ombak. Salah melepaskan, bisa saja ayam tidak
terbang ke darat, malah ke laut lepas atau mengarah tidak pada jurusan
yang telah ditetapkan (ada batas lebar arena yaitu selebar +100 meter).
Bila ayam terbang dan jatuh di laut ada sampan atau perahu yang sudah
siap menolongnya.
Kondisi angin yang baik di musim kemarau waktu pagi
ialah angm sepoi-sepoi basa berhembus dari darat ke laut. Dengan keadaan
angu”»
demikian ayam dapat merentangkan sayapnya, terbang
tinggi dan dapat hinggap di daratan jauh dari tepi pantai batas air
laut. Apalagi ayam yang sudah terlatih baik, gaya terbangnya indah
sekali dan jauh. Jarak antara patokan di laut ke tali batas air laut
pasang di pantai dalam keadaan angin dan cuaca baik kira-kira 300
meter. Ayam yang menang tidak ditentukan oleh batas cepatnya sampai di
darat. Tapi kemenangan itu ditentukan oleh jauhnya ayam hinggap dari
tali batas air laut pasang di dalam arena. Tempat ayam hinggap pertama
diberi tanda. Setelah pasangan pertama selesai ditentukan siapa
pemenangnya, kemudian disusul pasangan yang dua “Saocolan” (sekali
lepas) hanya terdiri dari sepasang (dua ekor) ayam saja. Sering beberapa
pasang ayam dibawa sekaligus ke laut. Di dalam perahu itu ikut serta
pembantu wasit untuk menyaksikan pasangan-pasangan ayam tersebut
dilepaskan. Di dalam perlombaan “kambrat”, peserta adakalanya sampai
mencapai 70 ekor ayam. Tentu saja tidak dapat diselesaikan pagi hari itu
(dari jam 07.00 — 09.00 pagi), tapi dilanjutkan sampai beberapa hari.
“Kambrat” tidak sering diadakan, paling ticak setahun sekali. Tapi
perlombaan dengan “sistim arisan” diselenggarakan tiap hari minggu
pagi. Uang arisannya sendiri hanya Rp. 250,— sedangkan hadiah pertama
hanya sebatang rokok kretek saja. Konon katanya pemenang kedua dan
ketiga hanya sebatang rokok dibagi dua. Hadiah bagi perlombaan kambrat
juga tidak banyak, hanya sebungkus rokok kretek bagi pemenang pertama.
Pesertanya ditarik uang pendaftaran. Sistim perlombaannya untuk
menentukan pemenang-pemenangnya, sama dengan Kerapan Sapi. Kelompok yang
menang diadu sama pemenangnya, sedangkan kelompok yang kalah, diadu
sama kalahnya. Urutan pemenang ialah juara pertama, kedua, ketiga dari
kelompok menang dan juara pertama, kedua, ketiga dari kelompok kalah.
Hadiahnya memang tidak memadai dengan biaya pemeliharaannya.
Permainan ini hanya semata-mata merupakan hiburan bagi rakyat. Sebab dalam hari-hari perlombaan tersebut, arena dibanjiri oleh rakyat
yang menonton, tidak hanya dari tiga desa tempat permainan ayam sap-sap
itu saja, tapi juga berasal dari desa-desa lain. Ada yang sekedar
melihat saja, ada yang memanfaatkan untuk berjualan dan ada juga yang menjadikan permainan tersebut-sebagai arena judi pGlap- Sebab judi dengan taruhan dalam permainan ini dilarang oleh emerintah mau pun Kepala Desanya. Apabila pada hari-hari tidak
libur diselenggarakan perlombaan ini, maka terjadilah
hal-hal yang negatif, yaitu banyak murid sekolah yang membolos, tidak
masuk sekolah, hanya untuk menonton perlombaan tersebut. Dalam
perlombaan yang diselenggarakan dengan cara “kambrat” permainan ini
diramaikan dengan “Sronen” (semacam klarinet) sebuah atau dua,
“kennong”, sebuah vkote’an” (sebangsa kenong) sebuah “maksor”
(carcar, keprra’), kendang kecil dan kendang besar masing-masing sebuah
dan gong besar dan kecil masing-masing juga sebuah, “Sronen” yang
lengkap dengan peralatan seperti tersebut di atas terdiri dari 10 orang
pemain. Peniup “Sronen” berfungsi juga sebagai “se ngejung” (penyanyi).
Lagu-lagunya khas Madura seperti “girowan’^ong-nengnong”,
“tengka’jaran” dan sebagainya. Dalam perlombaan yang bersifat “arisan”,
jarang mendatangkan “sronnen”. Jadi “sronnen” bersifat meramaikan saja.
Bukan merupakan bagian dari perlengkapan permainan “ajam sap-sap”.
Peranannya Masa Kini dan Tanggapan Rakyat/Masyarakat.
Permainan “ajam sap-sap” yang menurut pengakuan penduduk
desa Campor Timur adalah asli dari desa tersebut yang kemudian menjalar
banyak penggemarnya di desa-desa tetangganya yaitu Campor Barat dan
Bellu’ Ares. Permainan ini berfungsi sebagai hiburan bagi penduduk desa
yang agak jauh (25 km) dari keramaian kota, jauh dari hiburan-hiburan
lain sebab di desa tersebut tidak ada perkumpulan-perkumpulan kesenian
hiburan, tidak ada yang memiliki TV, dan terbatas penduduk yang memiliki
Radio Transistor. Kehausan ini ditumpahkan waktu diselenggarakan
perlombaan permainan ajam sap-sap. Penduduk yang menontonnya tumpah
ruah, tidak hanya dari Campor Timur, tapi dari desa-desa sekitarnya
yang juga haus hiburan.
Memang permainan “ajam sap-sap” bagi mereka adalah
sebagai salah satu pemuasan kebutuhan jiwa dan rohaniahnya di tempat
pemukiman mereka yang jauh dari kota. Fungsi yang lain adalah sebagai
usaha memperluas pergaulan,”nyare kanca” (mencari teman) kata mereka,
karena memang ada inter-action sosial antar warga desa sedesa dan antar
warga desa dengan warga desa yang lain. Selain itu, permainan ini kata
sementara penduduk, dapat diusahakan guna menggalakkan usaha peternakan
ayam. Kalau ada sementara orang yang menyalah gunakan permainan ini
untuk berjudi gelap, hal itu bukan kehendak bagian besar penduduk desa
tersebut. Banyak penduduk yang menyayangkan kebijaksanaan alat-alat
negara setempat yang melarang permainan “ajam sap-sap” ini, yang
merupakan hiburan rakyat yang sangat digemarinya. Hilanglah hiburan
satu-satunya, karena larangan tersebut.
Mereka berharap agar permainan “ajarn sap-sap” tersebut masih bisa
diselenggarakan lagi. Kesalahan segelintir orang, mengapa mesti bagian
terbesar dari penduduk harus menanggungnya, ini tidak adil Pak, kata Pak
Suparto yang rupa-rupanya menyelami kemenyesalan hati rakyatnya atas
larangan permainan “ajam sap-sap” itu.PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 115-123
Adipoday, Kabupaten Sumenep
Sesudah itu peperangan, maka Pangeran Setyodiniugrat III pulang
kembali ke Sumenep. Sesampainya di rumah, ia sedang menceritakan tentang
peperangan itu kepada isterinya, maka tiba-tiba datang ia punya ayah
yaitu Adipoday untuk menjumpai ibunya (Puteri Kuning). Setelah beberapa
hari Adipoday ada di Sumenep, maka ia berangkat ke pulau Sapudi dengan
membawa Puteri Kuning.
Sampai di Sapudi ia menghadap kepada ayahnya yaitu Panembahan Wlingi (Blingi) dan tinggal berkumpul di sana. Setelah Panembahan Wlingi meninggal, maka Adipoday menjadi raja mengganti ayahnya dan bergelar Panembahan Poday (Sapudi), memerintah semua kepulauan disekitar Sapudi, bergelar Panembahan Wiroakromo. Dia memeluk agama Islam dan terkenal siang hari malam memegang tasbih (rosenkrans) yang ia bikin dari buah nyamplong. Pun ia menganjurkan kepada kyai-kyai dan santri-santri “di kepulauan itu supaya memakai tasbih dari buah nyamplong.
Dari sebab itu banyaklah orang menanam pohon nyamplong (camplong) mula-mula diperlukan buahnya untuk membikin tasbih, kemudian kayunya dipakai untuk perkakas perahu yang ternyata amat kuat sekali. Sehingga kayu. nyamplong dipakai orang terutama untuk kemudian dari perahu-perahu di kepulauan Madura. Keraton yang ia tempati disebut orang sekarang desa nyamplong yaitu ia dimana ia setelah meninggal dunia dikuburkan.
Banyak orang menyebutkan ia punya nama “Panembahan Nyamplong, “Keraton Nyamplong”, makam atau kuburan Nyamplong”. Banyak diceritakan tentang ia punya kebaikan dan jasa-jasa baik selama memegang pimpinan pemerintahan di kepulauan Sapudi, sehingga sampai ini saat ia punya kuburan menjadi pepunden orang di seluruh kepulauan Madura dan daerah-daerah pesisir di Jawa Timur.
Pangeran Setyodiningrat 111 memegang pimpinan pemerintahan di Sumenep sehingga berusia tinggi tidak kurang suatu apapun, dan pimpinanya memuaskan seluruh rakyat Sumenep. Pada suatu ketika ada datang sebuah kapal dari Bali yang dinaiki oleh utusan dari raja Bali. Menurut seorang Menteri Bali yang membawa surat dari kapal, putera mahkota Bali ingin berkunjung kehadirat Pangeran Setyodiningrat 111 minta ijin perkenan beliau hari kapan dapat diterimanya.
Pangeran Setyodiningrat III mengirimkan seorang utusan dengan membawa kendaraan untuk menjemput kedatangan tamu itu. Kemudian tamu datang menghadap kehadirat Pangeran Setyodiningrat III dengan diiringi upacara kerajaan dan beberapa ratus orang prajurit (militer).
Sesampainya di istana Sumenep (Lapataman) sekonyong-konyong mereka itu mengamuk, sehingga banyak orang-orang yang ada ditepi laut Dungkek mati terbunuh dan mendapat luka-luka. Juga Pangeran Setyodiningrat III mendapat luka. Beliau dibawa lari dengan dipikul orang ditaruhnya di dalam tandu menuju ke keraton lama di Banasare. Beliau memberi pesanan pada orang-orang yang membawanya, bahwa untuk menjadi peringatan di kemudian hari, apabila beliau mati di tengah jalan, supaya tempat itu diberi nama yang mengenai itu kematian, dan dimana kayu yang dipakai untuk memikul beliau patah, supaya beliau ditanamnya. Maka sampai di desa Batang-Batang beliau meninggal.
Maka itu tempat dinamai desa Batang-Batang, yaitu mengambil dari bahasa Jawa “batang” dan bahasa Madura “bhabhatang” yang berarti “bangkai”. Dan sampai disuatu tempat lagi maka kayu pikulnya yang terpanjang patahlah. Itu tempat disebut orang desa Lanjuk yang berarti “panjang”. Itu desa terletak di daerah Kecamatan Manding (di Sumenep).Maka untuk mencuci luka beliau pun pula untuk memandikan mayat beliau orang mencarinya air kesana kemari, akan tetapi tidak mendapatnya.
Maka Raden Alio Begonondo (putera beliau) menggalikan tongkat kepunyaan ibunya yaitu Raden Ayu Ratnadi (yang telah pernah dipakai oleh ayahnya membikin sumber air Socah), maka dengan kuasa Allah Taala keluarlah air dari dalam tanah dan jadilah mata iar sehingga sekarang disebut orang “desa Sa-asa” (artinya tempat membikin bersih luka).
Kuburan dari Joko Tole alias Kudho Panule alias Pangeran Setyodiningrat III ada di desa lanjuk Kecamatan Manding sehingga ini saat oleh orang Madura dimuliakan sebagai pepunden dan dianggapnya sebagai suatu tempat dimana orang dapat mengambil sesuatu tanda apabila akan terjadi sesuatu pergolakan di dalam pulau Madura akan ikut serta.
Raden Ario Banyak Wide di Gersik telah juga mendapat tahu, bahwa saudaranya mendapat celaka lalu segera datang di Sumenep untuk membantunya. Setelah orang-orang Bali melihat dia, maka mereka itu menyangka, bahwa Kudho Panule hidup lagi (karena roman mukanya kedua saudara itu hampir bersamaan), maka dengan tergesa-gesa mereka itu lari ke kapalnya dan terus meninggalkan Sumenep. Sampai disini diakhirilah cerita.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah Permulaan Jadinya Pulau Madura hlm. 21-22
Sampai di Sapudi ia menghadap kepada ayahnya yaitu Panembahan Wlingi (Blingi) dan tinggal berkumpul di sana. Setelah Panembahan Wlingi meninggal, maka Adipoday menjadi raja mengganti ayahnya dan bergelar Panembahan Poday (Sapudi), memerintah semua kepulauan disekitar Sapudi, bergelar Panembahan Wiroakromo. Dia memeluk agama Islam dan terkenal siang hari malam memegang tasbih (rosenkrans) yang ia bikin dari buah nyamplong. Pun ia menganjurkan kepada kyai-kyai dan santri-santri “di kepulauan itu supaya memakai tasbih dari buah nyamplong.
Dari sebab itu banyaklah orang menanam pohon nyamplong (camplong) mula-mula diperlukan buahnya untuk membikin tasbih, kemudian kayunya dipakai untuk perkakas perahu yang ternyata amat kuat sekali. Sehingga kayu. nyamplong dipakai orang terutama untuk kemudian dari perahu-perahu di kepulauan Madura. Keraton yang ia tempati disebut orang sekarang desa nyamplong yaitu ia dimana ia setelah meninggal dunia dikuburkan.
Banyak orang menyebutkan ia punya nama “Panembahan Nyamplong, “Keraton Nyamplong”, makam atau kuburan Nyamplong”. Banyak diceritakan tentang ia punya kebaikan dan jasa-jasa baik selama memegang pimpinan pemerintahan di kepulauan Sapudi, sehingga sampai ini saat ia punya kuburan menjadi pepunden orang di seluruh kepulauan Madura dan daerah-daerah pesisir di Jawa Timur.
Pangeran Setyodiningrat 111 memegang pimpinan pemerintahan di Sumenep sehingga berusia tinggi tidak kurang suatu apapun, dan pimpinanya memuaskan seluruh rakyat Sumenep. Pada suatu ketika ada datang sebuah kapal dari Bali yang dinaiki oleh utusan dari raja Bali. Menurut seorang Menteri Bali yang membawa surat dari kapal, putera mahkota Bali ingin berkunjung kehadirat Pangeran Setyodiningrat 111 minta ijin perkenan beliau hari kapan dapat diterimanya.
Pangeran Setyodiningrat III mengirimkan seorang utusan dengan membawa kendaraan untuk menjemput kedatangan tamu itu. Kemudian tamu datang menghadap kehadirat Pangeran Setyodiningrat III dengan diiringi upacara kerajaan dan beberapa ratus orang prajurit (militer).
Sesampainya di istana Sumenep (Lapataman) sekonyong-konyong mereka itu mengamuk, sehingga banyak orang-orang yang ada ditepi laut Dungkek mati terbunuh dan mendapat luka-luka. Juga Pangeran Setyodiningrat III mendapat luka. Beliau dibawa lari dengan dipikul orang ditaruhnya di dalam tandu menuju ke keraton lama di Banasare. Beliau memberi pesanan pada orang-orang yang membawanya, bahwa untuk menjadi peringatan di kemudian hari, apabila beliau mati di tengah jalan, supaya tempat itu diberi nama yang mengenai itu kematian, dan dimana kayu yang dipakai untuk memikul beliau patah, supaya beliau ditanamnya. Maka sampai di desa Batang-Batang beliau meninggal.
Maka itu tempat dinamai desa Batang-Batang, yaitu mengambil dari bahasa Jawa “batang” dan bahasa Madura “bhabhatang” yang berarti “bangkai”. Dan sampai disuatu tempat lagi maka kayu pikulnya yang terpanjang patahlah. Itu tempat disebut orang desa Lanjuk yang berarti “panjang”. Itu desa terletak di daerah Kecamatan Manding (di Sumenep).Maka untuk mencuci luka beliau pun pula untuk memandikan mayat beliau orang mencarinya air kesana kemari, akan tetapi tidak mendapatnya.
Maka Raden Alio Begonondo (putera beliau) menggalikan tongkat kepunyaan ibunya yaitu Raden Ayu Ratnadi (yang telah pernah dipakai oleh ayahnya membikin sumber air Socah), maka dengan kuasa Allah Taala keluarlah air dari dalam tanah dan jadilah mata iar sehingga sekarang disebut orang “desa Sa-asa” (artinya tempat membikin bersih luka).
Kuburan dari Joko Tole alias Kudho Panule alias Pangeran Setyodiningrat III ada di desa lanjuk Kecamatan Manding sehingga ini saat oleh orang Madura dimuliakan sebagai pepunden dan dianggapnya sebagai suatu tempat dimana orang dapat mengambil sesuatu tanda apabila akan terjadi sesuatu pergolakan di dalam pulau Madura akan ikut serta.
Raden Ario Banyak Wide di Gersik telah juga mendapat tahu, bahwa saudaranya mendapat celaka lalu segera datang di Sumenep untuk membantunya. Setelah orang-orang Bali melihat dia, maka mereka itu menyangka, bahwa Kudho Panule hidup lagi (karena roman mukanya kedua saudara itu hampir bersamaan), maka dengan tergesa-gesa mereka itu lari ke kapalnya dan terus meninggalkan Sumenep. Sampai disini diakhirilah cerita.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah Permulaan Jadinya Pulau Madura hlm. 21-22
Permulaan Jadinya Pulau Madura
Diceritakan, bahwa pulau Madura ini bermula terlihat oleh
pelajar-pelajar pada zaman purbakala sebagai terpecah-pecah merupakan
beberapa puncak-puncak tanah yang tinggi (yang sekarang jadi puncak
bukit-bukit di Madura) dan beberapa tanah datar yang rendahan yang
apabila air laut surut kelihatan dan apabila air laut pasang tidak
kelihatan (ada di bawah muka air). Puncak-puncak yang terlihat itu,
diantaranya yang sekarang disebut gunung Geger di daerah Kabupaten
Bangkalan dan pegunungan Pajudan di daerah Kabupaten Sumenep
Diceritakan, bahwa pada zaman purbakala ada suatu negara yang bernama negara Mendangkamulan, di dalam kotanya ada sebuah keraton yang dinamai Keraton Giling Wesi, rajanya bernama Sangyangtunggal (menurut dugaan orang Madura di kiranya sesuatu tempat di dekat gunung Semeru di dekat puncaknya yang bernama gunung Bromo).Zaman itu sckira disekitar tahun Masehi 929.
Ada juga orang yang menyebut itu negara “Medang” jadi bukan “Medangkamulan”, sebab itu kejadian adalah sesudahnya ada gunung meletus disekitar tahun 929 M. Raja tadi mempunyai seorang anak wanita yang masih gadis. Pada suatu saat anak wanita itu bermimpi kemasukan rembulan dari mulutnya terus masuk di dalam perutnya dan tidak keluar lagi. Setelah beberapa bulan itu wanita menjadi hamil dan telah ketahuan pula pada ayahnya. Beberapa kali ayahnya menanyakan tentang sebab-sebabnya si anak menjadi hamil, itu anak sama sekali tidak menjawab, karena ia pun tidak mengetahui juga. Raja tadi amat marah dan lalu memanggil pepatihnya bernama Pranggulang.
Pepatih diperintah supaya ia membunuh ia punya anak yang hamil itu dan setelah itu anak terbunuh, supaya kepalanya diperlihatkan kepada Raja. Apabila Pranggulang tidak dapat memperlihatkan kepala dari itu anak, maka ia tidak diperkenankan menghadap pula kepada Raja dan terus tidak dianggap sebagai pepatih lagi. Pranggulang sanggup melakukan apa yang menjadi titah rajanya dan ia membawa anak gadis tadi keluar keraton terus kebutan rimba. Setelah sampai di sesuatu tempat di dalam hutan rimba, maka pepatih Pranggulang menghunus pedangnya dan memulai memedang lehernya itu gadis, akan tetapi pedang hampir sampai ke leher gadis, pedang itu jatuh dari tangannya Pranggulang ketanah. Yang demikian itu berjalan sehingga tiga kali senantiasa itu pedang jatuh ketanah.
Sesudah itu Pranggulang duduk termenung dan berfikir serta yakin, bahwa hamilnya ini gadis tentu bukan dari kesalahan ini gadis, akan tetapi tentu ada hal yang luar biasa. Maka ia lalu berkata kepada si gadis, bahwa telah tiga kali mestinya leher si gadis itu putus, akan tetapi belum pastinya si gadis itu mati, menjadi Pranggulang saja yang harus mengalah dan harus tidak kembali lagi kepada rajanya, dan mulai itu saat ia berubah nama yaitu Kyai Poleng (= poleng artinya di dalam bahasa Madura yaitu kain tenunan Madura) dan ia berubah pakaian yaitu memakai kain, baju dan ikat kepala dari kain poleng, la memotong kayu-kayu di hutan itu lalu dibawa ke pantai serta kayu-kayu itu dirangkai jadi satu rangkaian yang merupakan perahu ( oleh orang Madura, rangkaian kayu seperti itu dinamakan ghitek ( getek ~ djw).
Gadis tadi oleh Kyai Poleng didudukkan di atas ghitek itu di lautan dan ghitek ditendang menuju madu oro” (= pojok di ara-ara artinya pojok menuju kearah yang luas), (diceritakan, bahwa sebab inilah pulau ini dapat nama Madura. Lain cerita pula yang mengatakan, bahwa nama Madura itu dari perkataan “lemah dhuro” artinya tanah yang tidak sesungguhnya, yaitu mempunyai hubungan dengan api yang telah ditulis dimuka, bahwa apabila air laut surut tanahnya kelihatan dan apabila air laut pasang, tanahnya tidak kelihatan).
Diceritakan, bahwa ghitek tadi tiba terdampar di gunung Geger (disitu asalnya tanah Madura). (Memang didalam babad-ljabad apabila ada tertulis perkataan tanah Madura, maka yang dimaksudkan ialah tanah didaerah Kabupaten Bangkalan termasuk juga Kabupaten Sampang, sedang apabila penulis dari babad-babad itu menyebutkan daerah- daerah di sebelah timur dari daerah-daerah tadi, maka lalu ditulisnya saja, ” Sumenep atau Sumenep atau Sumckar” dan ditulisnya pula “Pamekasan”).
Sebulum gadis tadi diberangkatkan, maka dipesannya oleh Kyai Poleng, bahwa jika ada keperluan minta tolong apa-apa, supaya si gadis memukulkan kakinya tiga kali ketanah atau ke lantai apa yang ada dibawah kakinya dan seketika itu mesti Kyai Poleng datang untuk menolongnya. Pun itu gadis sebelum diberangkatkan diberinya bekal berupa beberapa buah-buahan agar jadi makannya.
Sampai di gunung Geger, maka turunlah gadis anak raja tadi dan tinggal duduk dibawah pohon pelasa (= pohon itu oleh orang Jawa disebut pohon ploso yaitu suatu pohon yang lebih kecil daripada pohon jati, juga daunnya hampir-hampir seperti daun jati. Di Madura itu daun sering dibuat bungkusnya tembakau rajangan).
Pada suatu ketika si hamil itu berasa sakit perut seolah-olah akan menemui ajalnya. Di situ ia memanggil Kyai Poleng dengan memakai tanda yang dijanjikan tadi, maka tidak antara lama yang dipanggil itu datang. Kyai Poleng bilang pada wanita itu, bahwa ia (wanita) akan melahirkan anak. Tidak lama lagi lahirlah seorang anak laki-laki yang roman mukanya amat bagus. Itu anak diberi nama “Raden Sagoro” (Sagoro artinya laut). Keluarga itu menjadi penduduk Madura yang pertama. Sesudah Raden Sagoro itu lahir dengan selamat, maka Kyai Poleng itu menghilang lagi (tidak kelihatan dirinya), akan tetapi sering-sering datang melawat itu keluarga dengan membawa makanan rupa buah-buahan.
Diceritakan, bahwa perahu-perahu dari orang-orang dagang yang berlayar dari beberapa kepulauan di Indonesia apabila pada waktu malam hari melalui lautan dekat tempatnya Raden Sagoro itu, maka mereka itu melihat suatu cahaya yang terang seolah-olah cahaya rembulan, maka mereka itu sering-sering berkata, apabila maksud mereka itu di dalam pelajarannya terkabul, maka akan berhenti berlabuh ditempai itu (Madura) (Geger), dan akan membuat selamatan makan minum disitu dan akan memberi hadiah kepada yang bercahaya itu.
Dengan demikian, maka sering-sering itu tempat kedatangan tamu-tamu yang telah terkabul maksudnya. Oleh karena mereka itu hanya melihat seorang wanita dengan seorang anaknya, maka hadiah-hadiah dari mereka itu dikasihkan kepada ibu dan anak itu. Dari sebab banyaknya orang-orang yang datang mengunjungi itu tempat, maka banyak pula daun-daun dan sampah-sampah yang dibuang di itu tempat dari sebab mana maka makin lama makin luaslah itu tempat.
Diceritakan, bahwa raden Sagoro telah berumur dua tahun, la sering -sering bermain-main ditepi lautan, maka dimana ia ada maka dari arah lautan datanglah dua ekor ular naga yang amat besarnya mendekaji dia. Dengan ketakutan, maka ia lalu lari dengan menangis dan menceritakan hal-ihwalnya kepada ibunya. Ibunya pun mempunyai rasa khawatir takut-takut anaknya dimakan ular besar itu, maka pada suatu ketika si ibu memanggil Kyai Poleng. Apabila Kyai Poleng telah datang maka dicerrtakanlah oleh ibu itu hal-ihwal yang terjadi yang menimbulkan rasa takut tadi. Lalu Kyai poleng mengajak Raden Sagoro bermain-main ditepi laut. Tidak seberapa lama, maka datanglah dua ekor ular raksasa itu. Lalu kyai Poleng bilang pada Raden Sagoro agar supaya itu dua ekor ular dipegang dan dibantingkan ke tanah.
Raden Sagoro tidak suka menurut permintaan kyai Poleng itu, sebab takut dimakan oleh ular raksasa itu, akan tetapi dengan paksaan dari Kyai Poleng, maka kemudian itu dua ekor ular raksasa dipegang oleh Raden Sagoro dan lalu dibantingkan ke tanah. Seketika itu juga maka itu dua ekor ular raksasa berubah menjadi dua bilah tombak. Lalu itu dua bilah tombak oleh Raden Sagoro diberikan kepada Kyai Poleng yang olehnya dibawa menghadap ibunya Raden Sagoro. Itu tombak yang satu diberi nama Kyai (Si) Nenggolo dan yang satunya diberi nama Kyai (Si) Aluquro.
Kyai Poleng hilangkan, bahwa kyai Aluquro untuk ditaruh dalam rumah dan Kyai Nenggolo untuk dibawa apabila pergi berperang, Diceritakannya oleh Kyai Poleng kepada Raden Sagoro dan ibunya tentang asal-usulnya itu dua bilah tombak itu. Pada jaman dahulu tanah Jawa ini kosong (tidak ada orang penduduknya). Maka setelah ketahuan kepadanya Raja Room lalu disuruhnya periksa kepada panglima perangnya dan apabila tanahnya makmur supaya ditaruhi beberapa keluarga dari negeri Room. Kejadian setelah diperiksa, maka tanah pulau Jawa itu ternyata amat makmur sehingga dinamai tanah “emas’. Kemudian dipindahkan ke tanah Jawa beberapa keluarga dari negeri Room. Maka disebutkan, bahwa di dalam tempo yang cepat saja, semua keluarga mendapat sakit keras dan menjadi mati.
Disebutkan bahwa pada itu waktu tanah Jawa itu menjadi sarangnya hantu-hantu yang memakan manusia. Maka Raja Room memerintahkan supaya di empat pojok dari pulau Jawa itu ditaruhi satu senjata pada tiap-tiap pojok yang disebelah bagian selatan ditaruh (ditanam) sebilah pedang suduk, disebelah barat bagian utara ditaruhi (ditanam) itu tombak Kyai Nenggolo, disebelah timur bagian utara ditaruh sebilah pedang suduk dan disebelah timur bagian selaian ditaruh tombak Kyai Aluquro itu.
Kemudian dari itu lalu dipindahkan pula beberapa keluarga dari negeri Room dan sekitarnya, maka mereka itu tetap hidup dan bercocok tanam di tanah Jawa. Sekarang Kyai Nenggolo dan Kyai Aluquro telah dititahkan oleh Yang Maha Esa menjadi pusakanya “Raden Sagoro”.
Diceritakannya, bahwa Raden Sagoro telah berumur 7 tahun dan tempat kediamannya berpindah dari gunung Geger ke desa Nepa. Nama Nepa itu oleh karena disitu desa yaitu suatu desa pesisir, penuh dengan pohon Nepa. Pohon Nepa disebut juga pohon Bunyok yaitu bangsa dari pohon kelapa, tapi tidak jadi besar seperti pohon kelapa, daunnya dapat dibikin atap rumah, yang masih muda dibikin rokok (seperti kelobot). Itu desa Nepa letaknya sekarang ada di daerah Kawedanan Ketapang (Kabupaten Sampang) dipantai sebelah utara (Java-zee) dan itu tempat sekarang ada terdapat banyak keranya.
Pada itu waktu negara Mendangkamulan dengan rajanya tnasih tetap Sangyangtunggal, kedatangan musuh dari negeri Cina. Di dalam peperangan raja Mendangkamulan berkali-kali kalah sehingga rakyatnya hampir habis dibunuh oleh musuh. Di dalam keadaan susah dan bingung raja Mendangkamulan tidak enak makan dan tidur dan memohon kepada Yang Maha Esa supaya mendapat pertolongan. Pada suatu malam itu raja bermimpi ketamuan seorang tua yang berkata, bahwa di sebelah pojok baiatnya dari keraton itu ada suatu pulau yang bernama Madu oro (Lemah duro) yaitu Madura. Di situ berdiam seorang anak muda bernama Raden Sagoro.
Raja disuruhnya supaya meminta pertolongan kepada Raden Sagoro itu apabila perangnya ingin menang. Keesokan harinya raja memerintahkan pepatihnya supaya membawa beberapa perahu dan beberapa orang prajurit dan membawa sekali bahan-bahan untuk buah tangan, mendatangi itu Raden Sagoro meminta pertolongan tentang peperangan itu. Perintah raja dijalankan oleh pepatihnya. Setelah orang sampai di Madura, maka dimintanya pertolongan itu kepada raden Sagoro dan juga kepada ibunya supaya memperkenankan puteranya itu dibawa ke negara Mendangkamulan.
Oleh ibu dari Raden Sagoro, Kyai Poleng dipanggil dan setelah datang pula. Disitu teijadi suatu peristiwa. Sebelum Kyai Poleng datang, oleh pepatih Mendangkamulan, Raden Sagoro mau dipaksa dibawa ke dalam perahu dan disuruh pegang oleh prajurit-prajurit yang tadi dibawanya. Maka para prajurit itu sama-sama lumpuh tidak mempunyai kekuatan dan lalu datang angin keras dari lautan sehingga perahu-perahunya hampir tenggelam ke dalam lautan.
Karena kemasukan air ombak yang menderu-deru dan amat besar datangnya. Maka pepatih Mendangkamulan lalu mohon ampun kepada Raden Sagoro dengan ibunya, maka keadaan berubah menjadi baik pula. Setelah Kyai Poleng datang, maka ia matur kepada ibunya Raden Sagoro supaya diijinkan puteranya pergi ke Mendangkamulan untuk membantu peperangan raja dari itu negara bermusuhan tentara Cina dan ia sanggup akan melayaninya. Raden Sagoro diijinkan oleh ibunya dan terus turut perahu yang memapaknya tadi dengan membawa pusaka tombak Kyai Poleng.
Kyai Poleng ikut serta, tetapi dirinya tidak kelihatan kepada lain orang, hanya kelihatan kepada Raden Sagoro. Sesampainya di negara Mendangkamulan terus berperang dengan tentara dari negeri Cina dengan disampingi oleh Kyai Poleng. Pusaka Kyai Nenggolo hanya ditunjukkan saja ke arah tempat-tempat sarang-sarang musuh, maka musuh banyak yang mati karena dapat sakit yang mendadak dan tidak antara lama semua musuh meninggalkan negara Mendangkamulan dan sebagian banyak sama-sama mati terserang penyakit mendadak.
Raja mendangkamulan membikin pesta besar karena sudah menang perang dan memberi penghormatan besar kepada Raden Sagoro serta memberinya gelaran “Raden Sagoro alias Tumenggung Gemet” artinya semua musuh apabila bertanding dengan dia adalah habis (gemet = Jawa).Raja berhajat mengambil anak mantu kepada Tumenggung Gemet dan menghantarkan dia (suruhan pepatihnya dan tentara kehormatan) dengan disertai surat terima kasih kepada ibunya.
Raja menanyakan siapa nama ayah dari Raden Sagoro, maka mendapat jawab dari Raden, Sagoro bahwa ia masih akan tanya pada ibunya. Setelah sampai di Nepa dan pengantar-pengantar telah bertolak kembali juga Kyai Poleng, maka Raden Sagoro menanyakan ibunya siapa nama ayahnya. Ibunya menjadi bingung dan menjawabnya, bahwa ayahnya adalah seorang siluman. Maka seketika itu menjadi lenyaplah ibu dan anaknya serta pula rumahnya yang disebut Keraton Nepa.
Demikian riwayat penduduk tanah Madura yang bermula. Oleh orang tua-tua dikesankan bahwa Raden Sagoro telah membalas hutang eyangnya yang menghinakan ibunya dan menjiku ibunya dengan pembalasan yang baik yaitu menolong di dalam peperangan. Diceritakan, bahwa Raden Sagoro sebagai orang siluman dikemudian beristri Nyi Roro Kidul.
Diceritakan pula, bahwa dikemudian tahun, Kyai Nenggolo dan Kyai Aluquro oleh Raden Sagoro diberikan kepada Pangeran Demang Palakaran (Kyai Demong) Bupati Arusbaya (Bangkalan) dan sehingga ini saat, dua bilah tombak tersebut masih menjadi pusaka Bangkalan. Juga di dalam kepercayaan orang tua-tua, Kyai Poleng adalah menjadi pembantu dari Pangeran Demang Palakaran dan turunannya.
Yang demikian itu apabila orang tidak lupakan dia. Kepercayaan orang tua-tua di tanah Madura diantara demikian : “Apabila seorang mempunyai anak di bawah umur dan anak itu terserang penyakit mata, maka ibu atau ayah dari anak itu lalu ambil sedikit air. Maka lalu berkata di dalam bahasa Madura yang apabila disalin di dalam bahasa Indonesia kutang lebih demikian : Kyai Poleng akan bepergian, maka tidak memjninyai salinan yaitu kain, baju dan ikat kepala, makalah jadi wurung, wurung, wurung. Maka lalu diambil kapur tadi ditaruhnya dikelilingnya mata yang sakit. Maka jadi sembuhlah itu penyakit”.
Demikian kepercayaan orang tua-tua berhubung dengan kepercayaannya kepada Kyai Poleng.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah PERMULAAN JADINYA PULAU MADURA, 4 Maret 1951, hlm. 1-5
Diceritakan, bahwa pada zaman purbakala ada suatu negara yang bernama negara Mendangkamulan, di dalam kotanya ada sebuah keraton yang dinamai Keraton Giling Wesi, rajanya bernama Sangyangtunggal (menurut dugaan orang Madura di kiranya sesuatu tempat di dekat gunung Semeru di dekat puncaknya yang bernama gunung Bromo).Zaman itu sckira disekitar tahun Masehi 929.
Ada juga orang yang menyebut itu negara “Medang” jadi bukan “Medangkamulan”, sebab itu kejadian adalah sesudahnya ada gunung meletus disekitar tahun 929 M. Raja tadi mempunyai seorang anak wanita yang masih gadis. Pada suatu saat anak wanita itu bermimpi kemasukan rembulan dari mulutnya terus masuk di dalam perutnya dan tidak keluar lagi. Setelah beberapa bulan itu wanita menjadi hamil dan telah ketahuan pula pada ayahnya. Beberapa kali ayahnya menanyakan tentang sebab-sebabnya si anak menjadi hamil, itu anak sama sekali tidak menjawab, karena ia pun tidak mengetahui juga. Raja tadi amat marah dan lalu memanggil pepatihnya bernama Pranggulang.
Pepatih diperintah supaya ia membunuh ia punya anak yang hamil itu dan setelah itu anak terbunuh, supaya kepalanya diperlihatkan kepada Raja. Apabila Pranggulang tidak dapat memperlihatkan kepala dari itu anak, maka ia tidak diperkenankan menghadap pula kepada Raja dan terus tidak dianggap sebagai pepatih lagi. Pranggulang sanggup melakukan apa yang menjadi titah rajanya dan ia membawa anak gadis tadi keluar keraton terus kebutan rimba. Setelah sampai di sesuatu tempat di dalam hutan rimba, maka pepatih Pranggulang menghunus pedangnya dan memulai memedang lehernya itu gadis, akan tetapi pedang hampir sampai ke leher gadis, pedang itu jatuh dari tangannya Pranggulang ketanah. Yang demikian itu berjalan sehingga tiga kali senantiasa itu pedang jatuh ketanah.
Sesudah itu Pranggulang duduk termenung dan berfikir serta yakin, bahwa hamilnya ini gadis tentu bukan dari kesalahan ini gadis, akan tetapi tentu ada hal yang luar biasa. Maka ia lalu berkata kepada si gadis, bahwa telah tiga kali mestinya leher si gadis itu putus, akan tetapi belum pastinya si gadis itu mati, menjadi Pranggulang saja yang harus mengalah dan harus tidak kembali lagi kepada rajanya, dan mulai itu saat ia berubah nama yaitu Kyai Poleng (= poleng artinya di dalam bahasa Madura yaitu kain tenunan Madura) dan ia berubah pakaian yaitu memakai kain, baju dan ikat kepala dari kain poleng, la memotong kayu-kayu di hutan itu lalu dibawa ke pantai serta kayu-kayu itu dirangkai jadi satu rangkaian yang merupakan perahu ( oleh orang Madura, rangkaian kayu seperti itu dinamakan ghitek ( getek ~ djw).
Gadis tadi oleh Kyai Poleng didudukkan di atas ghitek itu di lautan dan ghitek ditendang menuju madu oro” (= pojok di ara-ara artinya pojok menuju kearah yang luas), (diceritakan, bahwa sebab inilah pulau ini dapat nama Madura. Lain cerita pula yang mengatakan, bahwa nama Madura itu dari perkataan “lemah dhuro” artinya tanah yang tidak sesungguhnya, yaitu mempunyai hubungan dengan api yang telah ditulis dimuka, bahwa apabila air laut surut tanahnya kelihatan dan apabila air laut pasang, tanahnya tidak kelihatan).
Diceritakan, bahwa ghitek tadi tiba terdampar di gunung Geger (disitu asalnya tanah Madura). (Memang didalam babad-ljabad apabila ada tertulis perkataan tanah Madura, maka yang dimaksudkan ialah tanah didaerah Kabupaten Bangkalan termasuk juga Kabupaten Sampang, sedang apabila penulis dari babad-babad itu menyebutkan daerah- daerah di sebelah timur dari daerah-daerah tadi, maka lalu ditulisnya saja, ” Sumenep atau Sumenep atau Sumckar” dan ditulisnya pula “Pamekasan”).
Sebulum gadis tadi diberangkatkan, maka dipesannya oleh Kyai Poleng, bahwa jika ada keperluan minta tolong apa-apa, supaya si gadis memukulkan kakinya tiga kali ketanah atau ke lantai apa yang ada dibawah kakinya dan seketika itu mesti Kyai Poleng datang untuk menolongnya. Pun itu gadis sebelum diberangkatkan diberinya bekal berupa beberapa buah-buahan agar jadi makannya.
Sampai di gunung Geger, maka turunlah gadis anak raja tadi dan tinggal duduk dibawah pohon pelasa (= pohon itu oleh orang Jawa disebut pohon ploso yaitu suatu pohon yang lebih kecil daripada pohon jati, juga daunnya hampir-hampir seperti daun jati. Di Madura itu daun sering dibuat bungkusnya tembakau rajangan).
Pada suatu ketika si hamil itu berasa sakit perut seolah-olah akan menemui ajalnya. Di situ ia memanggil Kyai Poleng dengan memakai tanda yang dijanjikan tadi, maka tidak antara lama yang dipanggil itu datang. Kyai Poleng bilang pada wanita itu, bahwa ia (wanita) akan melahirkan anak. Tidak lama lagi lahirlah seorang anak laki-laki yang roman mukanya amat bagus. Itu anak diberi nama “Raden Sagoro” (Sagoro artinya laut). Keluarga itu menjadi penduduk Madura yang pertama. Sesudah Raden Sagoro itu lahir dengan selamat, maka Kyai Poleng itu menghilang lagi (tidak kelihatan dirinya), akan tetapi sering-sering datang melawat itu keluarga dengan membawa makanan rupa buah-buahan.
Diceritakan, bahwa perahu-perahu dari orang-orang dagang yang berlayar dari beberapa kepulauan di Indonesia apabila pada waktu malam hari melalui lautan dekat tempatnya Raden Sagoro itu, maka mereka itu melihat suatu cahaya yang terang seolah-olah cahaya rembulan, maka mereka itu sering-sering berkata, apabila maksud mereka itu di dalam pelajarannya terkabul, maka akan berhenti berlabuh ditempai itu (Madura) (Geger), dan akan membuat selamatan makan minum disitu dan akan memberi hadiah kepada yang bercahaya itu.
Dengan demikian, maka sering-sering itu tempat kedatangan tamu-tamu yang telah terkabul maksudnya. Oleh karena mereka itu hanya melihat seorang wanita dengan seorang anaknya, maka hadiah-hadiah dari mereka itu dikasihkan kepada ibu dan anak itu. Dari sebab banyaknya orang-orang yang datang mengunjungi itu tempat, maka banyak pula daun-daun dan sampah-sampah yang dibuang di itu tempat dari sebab mana maka makin lama makin luaslah itu tempat.
Diceritakan, bahwa raden Sagoro telah berumur dua tahun, la sering -sering bermain-main ditepi lautan, maka dimana ia ada maka dari arah lautan datanglah dua ekor ular naga yang amat besarnya mendekaji dia. Dengan ketakutan, maka ia lalu lari dengan menangis dan menceritakan hal-ihwalnya kepada ibunya. Ibunya pun mempunyai rasa khawatir takut-takut anaknya dimakan ular besar itu, maka pada suatu ketika si ibu memanggil Kyai Poleng. Apabila Kyai Poleng telah datang maka dicerrtakanlah oleh ibu itu hal-ihwal yang terjadi yang menimbulkan rasa takut tadi. Lalu Kyai poleng mengajak Raden Sagoro bermain-main ditepi laut. Tidak seberapa lama, maka datanglah dua ekor ular raksasa itu. Lalu kyai Poleng bilang pada Raden Sagoro agar supaya itu dua ekor ular dipegang dan dibantingkan ke tanah.
Raden Sagoro tidak suka menurut permintaan kyai Poleng itu, sebab takut dimakan oleh ular raksasa itu, akan tetapi dengan paksaan dari Kyai Poleng, maka kemudian itu dua ekor ular raksasa dipegang oleh Raden Sagoro dan lalu dibantingkan ke tanah. Seketika itu juga maka itu dua ekor ular raksasa berubah menjadi dua bilah tombak. Lalu itu dua bilah tombak oleh Raden Sagoro diberikan kepada Kyai Poleng yang olehnya dibawa menghadap ibunya Raden Sagoro. Itu tombak yang satu diberi nama Kyai (Si) Nenggolo dan yang satunya diberi nama Kyai (Si) Aluquro.
Kyai Poleng hilangkan, bahwa kyai Aluquro untuk ditaruh dalam rumah dan Kyai Nenggolo untuk dibawa apabila pergi berperang, Diceritakannya oleh Kyai Poleng kepada Raden Sagoro dan ibunya tentang asal-usulnya itu dua bilah tombak itu. Pada jaman dahulu tanah Jawa ini kosong (tidak ada orang penduduknya). Maka setelah ketahuan kepadanya Raja Room lalu disuruhnya periksa kepada panglima perangnya dan apabila tanahnya makmur supaya ditaruhi beberapa keluarga dari negeri Room. Kejadian setelah diperiksa, maka tanah pulau Jawa itu ternyata amat makmur sehingga dinamai tanah “emas’. Kemudian dipindahkan ke tanah Jawa beberapa keluarga dari negeri Room. Maka disebutkan, bahwa di dalam tempo yang cepat saja, semua keluarga mendapat sakit keras dan menjadi mati.
Disebutkan bahwa pada itu waktu tanah Jawa itu menjadi sarangnya hantu-hantu yang memakan manusia. Maka Raja Room memerintahkan supaya di empat pojok dari pulau Jawa itu ditaruhi satu senjata pada tiap-tiap pojok yang disebelah bagian selatan ditaruh (ditanam) sebilah pedang suduk, disebelah barat bagian utara ditaruhi (ditanam) itu tombak Kyai Nenggolo, disebelah timur bagian utara ditaruh sebilah pedang suduk dan disebelah timur bagian selaian ditaruh tombak Kyai Aluquro itu.
Kemudian dari itu lalu dipindahkan pula beberapa keluarga dari negeri Room dan sekitarnya, maka mereka itu tetap hidup dan bercocok tanam di tanah Jawa. Sekarang Kyai Nenggolo dan Kyai Aluquro telah dititahkan oleh Yang Maha Esa menjadi pusakanya “Raden Sagoro”.
Diceritakannya, bahwa Raden Sagoro telah berumur 7 tahun dan tempat kediamannya berpindah dari gunung Geger ke desa Nepa. Nama Nepa itu oleh karena disitu desa yaitu suatu desa pesisir, penuh dengan pohon Nepa. Pohon Nepa disebut juga pohon Bunyok yaitu bangsa dari pohon kelapa, tapi tidak jadi besar seperti pohon kelapa, daunnya dapat dibikin atap rumah, yang masih muda dibikin rokok (seperti kelobot). Itu desa Nepa letaknya sekarang ada di daerah Kawedanan Ketapang (Kabupaten Sampang) dipantai sebelah utara (Java-zee) dan itu tempat sekarang ada terdapat banyak keranya.
Pada itu waktu negara Mendangkamulan dengan rajanya tnasih tetap Sangyangtunggal, kedatangan musuh dari negeri Cina. Di dalam peperangan raja Mendangkamulan berkali-kali kalah sehingga rakyatnya hampir habis dibunuh oleh musuh. Di dalam keadaan susah dan bingung raja Mendangkamulan tidak enak makan dan tidur dan memohon kepada Yang Maha Esa supaya mendapat pertolongan. Pada suatu malam itu raja bermimpi ketamuan seorang tua yang berkata, bahwa di sebelah pojok baiatnya dari keraton itu ada suatu pulau yang bernama Madu oro (Lemah duro) yaitu Madura. Di situ berdiam seorang anak muda bernama Raden Sagoro.
Raja disuruhnya supaya meminta pertolongan kepada Raden Sagoro itu apabila perangnya ingin menang. Keesokan harinya raja memerintahkan pepatihnya supaya membawa beberapa perahu dan beberapa orang prajurit dan membawa sekali bahan-bahan untuk buah tangan, mendatangi itu Raden Sagoro meminta pertolongan tentang peperangan itu. Perintah raja dijalankan oleh pepatihnya. Setelah orang sampai di Madura, maka dimintanya pertolongan itu kepada raden Sagoro dan juga kepada ibunya supaya memperkenankan puteranya itu dibawa ke negara Mendangkamulan.
Oleh ibu dari Raden Sagoro, Kyai Poleng dipanggil dan setelah datang pula. Disitu teijadi suatu peristiwa. Sebelum Kyai Poleng datang, oleh pepatih Mendangkamulan, Raden Sagoro mau dipaksa dibawa ke dalam perahu dan disuruh pegang oleh prajurit-prajurit yang tadi dibawanya. Maka para prajurit itu sama-sama lumpuh tidak mempunyai kekuatan dan lalu datang angin keras dari lautan sehingga perahu-perahunya hampir tenggelam ke dalam lautan.
Karena kemasukan air ombak yang menderu-deru dan amat besar datangnya. Maka pepatih Mendangkamulan lalu mohon ampun kepada Raden Sagoro dengan ibunya, maka keadaan berubah menjadi baik pula. Setelah Kyai Poleng datang, maka ia matur kepada ibunya Raden Sagoro supaya diijinkan puteranya pergi ke Mendangkamulan untuk membantu peperangan raja dari itu negara bermusuhan tentara Cina dan ia sanggup akan melayaninya. Raden Sagoro diijinkan oleh ibunya dan terus turut perahu yang memapaknya tadi dengan membawa pusaka tombak Kyai Poleng.
Kyai Poleng ikut serta, tetapi dirinya tidak kelihatan kepada lain orang, hanya kelihatan kepada Raden Sagoro. Sesampainya di negara Mendangkamulan terus berperang dengan tentara dari negeri Cina dengan disampingi oleh Kyai Poleng. Pusaka Kyai Nenggolo hanya ditunjukkan saja ke arah tempat-tempat sarang-sarang musuh, maka musuh banyak yang mati karena dapat sakit yang mendadak dan tidak antara lama semua musuh meninggalkan negara Mendangkamulan dan sebagian banyak sama-sama mati terserang penyakit mendadak.
Raja mendangkamulan membikin pesta besar karena sudah menang perang dan memberi penghormatan besar kepada Raden Sagoro serta memberinya gelaran “Raden Sagoro alias Tumenggung Gemet” artinya semua musuh apabila bertanding dengan dia adalah habis (gemet = Jawa).Raja berhajat mengambil anak mantu kepada Tumenggung Gemet dan menghantarkan dia (suruhan pepatihnya dan tentara kehormatan) dengan disertai surat terima kasih kepada ibunya.
Raja menanyakan siapa nama ayah dari Raden Sagoro, maka mendapat jawab dari Raden, Sagoro bahwa ia masih akan tanya pada ibunya. Setelah sampai di Nepa dan pengantar-pengantar telah bertolak kembali juga Kyai Poleng, maka Raden Sagoro menanyakan ibunya siapa nama ayahnya. Ibunya menjadi bingung dan menjawabnya, bahwa ayahnya adalah seorang siluman. Maka seketika itu menjadi lenyaplah ibu dan anaknya serta pula rumahnya yang disebut Keraton Nepa.
Demikian riwayat penduduk tanah Madura yang bermula. Oleh orang tua-tua dikesankan bahwa Raden Sagoro telah membalas hutang eyangnya yang menghinakan ibunya dan menjiku ibunya dengan pembalasan yang baik yaitu menolong di dalam peperangan. Diceritakan, bahwa Raden Sagoro sebagai orang siluman dikemudian beristri Nyi Roro Kidul.
Diceritakan pula, bahwa dikemudian tahun, Kyai Nenggolo dan Kyai Aluquro oleh Raden Sagoro diberikan kepada Pangeran Demang Palakaran (Kyai Demong) Bupati Arusbaya (Bangkalan) dan sehingga ini saat, dua bilah tombak tersebut masih menjadi pusaka Bangkalan. Juga di dalam kepercayaan orang tua-tua, Kyai Poleng adalah menjadi pembantu dari Pangeran Demang Palakaran dan turunannya.
Yang demikian itu apabila orang tidak lupakan dia. Kepercayaan orang tua-tua di tanah Madura diantara demikian : “Apabila seorang mempunyai anak di bawah umur dan anak itu terserang penyakit mata, maka ibu atau ayah dari anak itu lalu ambil sedikit air. Maka lalu berkata di dalam bahasa Madura yang apabila disalin di dalam bahasa Indonesia kutang lebih demikian : Kyai Poleng akan bepergian, maka tidak memjninyai salinan yaitu kain, baju dan ikat kepala, makalah jadi wurung, wurung, wurung. Maka lalu diambil kapur tadi ditaruhnya dikelilingnya mata yang sakit. Maka jadi sembuhlah itu penyakit”.
Demikian kepercayaan orang tua-tua berhubung dengan kepercayaannya kepada Kyai Poleng.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah PERMULAAN JADINYA PULAU MADURA, 4 Maret 1951, hlm. 1-5
Sejarah Masyarakat Madura
Sejarah Masyarakat Madura
Sosiologi dan Sejarah Masyarakat Madura.
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah utara Jawa Timur. Pulau Madura ini besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil dari pulau Bali), dengan penduduk sebanyak 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi 4 kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Bangkalan berada di ujung paling barat pulau Madura dan saat ini telah dibangun jembatan terpanjang di Indonesia, jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam Gerbangkertosusila. Dan uniknya Sumenep yang merupakan salah satu kabupaten di Madura selain terdiri dari wilayah daratan, terdiri pula dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau.
Meski kebanyakan wilayah yang termasuk kawasan Madura adalah kepulauan, namun Madura tetap memiliki kebudayaan tersendiri. Budaya Madura berbeda dengan budaya Jawa. Kebudayaan Madura yang bersumber dari kraton, sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan kraton Jawa. Baik dalam bidang seni, tari, macopat, bahasa, ataupun gending-gending gamelan. Namun hal ini bukan berarti Madura tidak memiliki akar budaya sendiri. Perbedaan yang cukup mencolok dapat terlihat dalam kehidupan keseharian, sifat orang Madura yang lebih egaliter dan terbuka, berbeda dengan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat “ewuh pakewuh”. Dalam hal mencari rezeki pun, orang-orang Madura sejak masa lalu sudah berani merantau ke luar pulau. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Madura yang tersebar hampir di seluruh penjuru Negeri bahkan sampai-sampai di luar negeri pun ada.
Masyarakat Madura dikenal juga memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Istilah khas disini menunjukkan bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain. Kekhususan- kultural ini antara lain tampak pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka kepada empat figur utama dalam kehidupan yaitu Buppa, Babu, Guruh, ban Ratoh (Ayah, Ibu, Guru dan Pemimpin Pemerintahan). Banyak persepsi masyarakat luar memberikan beberapa penilaian tentang Madura dan masyarakatnya, yaitu:
Pertama, rakyat Madura dinilai mempunyai watak keras, tidak mau mengalah. Penulis tidak tahu secara pasti apa yang mempengaruhi sampai mereka berstatement seperti itu, apa mungkin ada pihak- pihak yang tidak senang terhadap rakyat Madura sehingga ia membesar-besarkan berita yang sebenarnya berita tersebut tidaklah seperti yang ia pahami, dan ia sampaikan, atau berasal dari orang luar Madura yang kebetulan pada saat berkunjung ke Madura menemukan kejadian yang mereka anggap keras, seperti Clurit, dan Carok, atau malah berasal dari rakyat Madura yang tidak paham akan makna budaya Madura terutama Clurit sehingga ia menceritakan, dan menjelaskannya dengan penjelasan yang kurang tepat bahkan salah yang pada akhirnya Clurit identik dengan Carok sehingga Carok secara tidak langsung dianggap menjadi bagian dari budaya Madura. Pandangan ini – Clurit, dan Carok adalah kultur Madura – merupakan pandangan yang sudah tidak
asing lagi didengar dari ungkapan-ungkapan mereka ketika mendengar kata Madura, dan sudah tertanam dengan kuat dalam memori mereka bahwasanya Madura adalah wilayah berdarah yang penuh kekerasan, semua masalah hanya diselesaikan dengan kekerasan, dan pertumpahan darah.
Kedua, SDM rendah, pandangan mereka terhadap permasalahan ini tidak separah anggapan- anggapan terhadap tindakan-tindakan kekerasan yang pernah dilakukan rakyat Madura, ketika perspektif mereka terhadap clurit, dan carok sangat mendominasi mereka – bahkan hampir semua – memori mereka, namun dalam masalah ini masih bisa dibagi menjadi dua bagian, pertama yang menganggap rakyat Madura rendah, dan yang menganggap SDM Madura unggul. Yang menganggap SDM rakyat Madura rendah biasanya dari kalangan yang kurang memperhatikan secara langsung kualitas rakyat Madura, hal ini biasanya banyak terjadi diluar dunia lembaga pendidikan yang tidak berinteraksi langsung dengan rakyat Madura (siswa, atau mahasisiwa madura), atau bisa dikatakan orang-orang yang terpengaruhi oleh data-data jumlah lembaga yang dianggap menjadi ukuran kualitas SDM suatu wilayah tertentu, dalam hal ini biasa dilakukan oleh pemerintah, dan instansi formal lainnya, dan orang yang memandang Madura dari kejauhan, seperti masyarat biasa. Sedikitnya lembaga pendidikan yang ada di Madura, dan terbatasnya universitas berkualits menjadi alasan terkuat untuk mengatakan rakyat Madura adalah rakyat yang awam, tidak mengenal pendidikan, tidak berkompetensi dalam bidang keilmuan, buta teknologi, dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari Madura, sehingga muncullah sifat meremehkan terhadap rakyat Madura. Mereka beranggapan bahwa lembaga pendidikan baik sekolah maupun kampus merupakan pusat pembentukan SDM yang berkualitas, jadi bagaimana mungkin SDM bisa berkualitas jika tempat pemproduksinya terbatas (tidak memadai).
Ketiga, kemiskinan yang tidak tertangani. Berdasarkan hasil penelitian, yang tertera dalam buku- buku dan dipeta dunia sekalipun, bahkan realita yang ada, juga menyatakan bahwa pendapatan Madura bisa dikatakan hanyalah pertanian, karena mayoritas dan bahkan hampir keseluruhan rakyat Madura bercocok tanam, diantara yang sangat dibanggakan adalah tembakau, padi, jagung, kacang ijo, dan tanaman- tanaman kecil lainnya. Nah dari kondisi ini bisa ditebak, dan bisa digambarkan suasana perekonomian dimadura. Dan berdasar penelitian pemerintah tentang kondisi perekonomian disana, mereka menyebutkan bahwa pengangguran dimadura sedang merajalela. Sedikitnya lapangan pekerjaan, minimnyanya kreatifitas rakyat Madura menjadikan pengangguran berserakan diberbagai tempat, yang berakibatkan angka kemiskinan yang terus bertambah dari waktu kewaktu. Sempitnya pemikiran rakyat Madura yang menganggap bahwa PNS merupakan profesi yang sangat dan paling menjanjikan juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh/berperan dalam kemerosotan perekonomian dimadura. Padahal jika dicermati masih banyak pekerjaan yang jauh lebih menjanjikan terhadap makmurnya perekonomian disana, misalkan kreativitas diri – kerajinan khas Madura – batik Madura, dan kerajinan lainnya, dan perdagangan (bisnis) juga jauh lebih menguntungkan dari pada PNS. Dari beberapa analisis tadi, hasil musyawarah pemerintah menyebutkan bahwa permasalahan ini hanya bisa ditangani dengan mengadakan perindustrialisasi dikawasan Madura. Ketika perindustrian dibuka para investor akan berbondong-bondong menanamkan modal dimadura, namun masih ada beberapa kecemasan yang ada, dikuatirkan adalah adanya kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat, jika demikian meskipun perindustrian di Madura berkembang dengan pesat, tapi bisa saja rakyat Madura tidak mempunyai peran sedikitpuan, dan bahkan bisa saja mereka dijadikan budak para investor asing diwilayah sendiri, sehingga yang terjadi bukan ada perbaikan perbaikan perekonomian disana, malah yang ada hanyalah perbudakan, dan pemerasan terhadap rakyat Madura.
Keempat, berwajah paspasan, berpenampilan kolot, dan jadul. Entah darimana dan apa yang membuat beberapa orang di luar madura beranggapan demikian, tapi bisa jadi akibat dari rakyat Madura yang mereka kenal langsung mungkin rata-rata bercirikan seperti itu, sehingga muncullah perspektif yang sesuai dengan realita yang mereka dapatkan. Hal ini bisa dikatakan subyektifitas yang popular di masyarakat di luar Madura. Terlepas dari pandangan persepsi yang terkesan subyektif di atas adalah wajar-wajar saja, karena memang, kadang orang luar Madura kurang arif memberikan penilaian obyektif tentang streotif orang Madura yang sesungguhnya. Khasanah keunikan Madura juga merambah pada nilai – nilai budaya, yang mana hal tersebut perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan. Diantaranya adalah ungkapan-ungkapan seperti: “Manossa coma dharma”, ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. “Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman”, menunjukkan akan berjalin kelindannya budaya Madura dengan nilai-nilai Islam.” Bango’ jhuba’a e ada’ etembang jhuba’ a e budi”, lebih baik jelek di depan daripada jelek di belakang. “Asel ta’ adhina asal”, mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri. “Lakonna lakone, kennengngana kennengnge” sama halnya dengan ungkapan “The right man in the right place”. “Pae” jha’ dhuli palowa, manes jha’ dhuli kalodu”, nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. “Karkar colpe’”, bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang ingin dinikmati.
Keunikan yang lain dari budaya Madura adalah pada dasarnya dibentukdan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan topografis masyarakat Madura yang kebanyakan hidup di daerah pesisir, sehingga mayoritas penduduk Madura memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Bahasan mengenai masyarakat Madura tidak akan lepas pada perkembangan sejarah masa lalu Madura di saat mendalami akar jaman sebelum dan sesudah masa kolonial Belanda.
Sesuai dengan geografi traditional (*Study Prof. DR. Kuntowijoyo) Madura adalah nama yang digunakan untuk sebuah kerajaan, yang kemudian bernama Bangkalan, di wilayah barat pulau utama Madura. Nama Madura ini oleh Belanda pada tahun 1857 dipergunakan untuk menggambarkan keseluruhan pulau yang mereka tetapkan sebagai keresidenan Madura, dengan ibu kota Pamekasan, dan dua asisten keresidenan di Bangkalan dan Sumenep.
Dalam upaya kolonial Belanda untuk menyusutkan kerajaan kerajaan pribumi sampai akhirnya untuk menghapuskan keberadaan kerajaan pribumi, pada tahun 1885 Belanda membagi Madura dalam 4 afdeeling dan 4 kabupaten. Dimana afdeeling dikepalai oleh asisten residen sedangkan kabupaten dikepalai oleh bupati. Pada pertengahan abad XIX pulau Madura banyak memiliki hutan-hutan, oro-ora dan rawa. Pada saat itu masyarakat Madura telah mengolah dengan cara ladang kering atau dikenal dengan istilah tegai, yang pada saat itu bukan hal yang lazim di terapkan. Saat itu di Indonesia masih mengenal 2 ekologi yaitu sawah dan ladang.
Suatu hal di Madura sukar untuk dilacak. Pamanfaatan tanah di Madura mengenal 4 tipe yaitu sawah irigasi, sawah tadah hujan, tegai, dan sawah rawa. Untuk wilayah Madura utara dan selatan kondisi tanah di dominasi oleh susunan batu kapur dan endapan kapur. Kurangnya air dan jenis tanah ini merupakan rintangan besar bagi pertanian di Madura, dimana pertanian yang ada hanya mengandalkan air bawah tanah dan curah hujan. Perencanaan irigasi sebagai salah satu solusi masalah tersebut telah di pikirkan dalam administrasi regional 1884. Hal terbukti dengan adanya laporan resmi tahun 1928, keseluruhan tanah yang telah teririgasi sejumlah 13.111 bau, dengan sebagian besar wilayah barat dan selatan Madura.
Alam telah memaksa masyarakat Madura memilih jenis bibit padi yang mempunyai masa pertumbuhan singkat. Walaupun mereka kesulitan, orang Madura lebih intensif dalam pengolahan tanah dibanding rata rata orang jawa, hal ini terlihat dari tabel hasil panen padi rata-rata per bau, yang menarik pemanfaatan lahan dengan ladang kering (tegai) merupakan studi kasus tersendiri yang menarik perhatian peneliti asing sampai saat ini. Pada abad yang sama juga terjadi penebangan hutan besar- besaran, terutama hutan jati. Mengakibatkan banyak tanah yang tak terpakai dan banyak ditumbuhi alang- alang atau menjadi gundul. Proses penebangan hutan Dengan luasan yang jauh lebih kecil daripada jawa hasil panen yang mereka capai cukup dominan bila dibandingkan dengan Jawa. Tidak hanya padi, secara data sejarah belanda, Madura memegang andil besar dalam produksi jagung.
Intensitas ini bukan berarti menjadikan masyarakat madura makmur. Bagi orang Madura, pemanfaatan bahan makanan pokok tergantung pada tanaman lain juga. Tanaman lain yang memberikan keuntungan bagi orang Madura dalam perdagangan diantaranya asam jawa, kapuk, dan pohon mangga. Walaupun demikian pertumbuhan tembakau di Madura cenderung meningkat, hal ini dikarenakan kemampuan tanaman tembakau beradaptasi terhadap variasi tanah dan kondisi air. Walaupun secara kuantitas meningkat tetapi secara kualitas sedikit mengecewakan karena tidak ada kesamaan standard masing-masing produsen untuk memperoleh nilai mutu yang seragam.
disadur dari Disertasi Prof.Dr.Kuntowijoyo, dan berbagai sumber
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Info Balai V, edisi 08, Desember 20012,21-25
Sosiologi dan Sejarah Masyarakat Madura.
Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah utara Jawa Timur. Pulau Madura ini besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil dari pulau Bali), dengan penduduk sebanyak 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi 4 kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Bangkalan berada di ujung paling barat pulau Madura dan saat ini telah dibangun jembatan terpanjang di Indonesia, jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam Gerbangkertosusila. Dan uniknya Sumenep yang merupakan salah satu kabupaten di Madura selain terdiri dari wilayah daratan, terdiri pula dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau.
Meski kebanyakan wilayah yang termasuk kawasan Madura adalah kepulauan, namun Madura tetap memiliki kebudayaan tersendiri. Budaya Madura berbeda dengan budaya Jawa. Kebudayaan Madura yang bersumber dari kraton, sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan kraton Jawa. Baik dalam bidang seni, tari, macopat, bahasa, ataupun gending-gending gamelan. Namun hal ini bukan berarti Madura tidak memiliki akar budaya sendiri. Perbedaan yang cukup mencolok dapat terlihat dalam kehidupan keseharian, sifat orang Madura yang lebih egaliter dan terbuka, berbeda dengan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat “ewuh pakewuh”. Dalam hal mencari rezeki pun, orang-orang Madura sejak masa lalu sudah berani merantau ke luar pulau. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Madura yang tersebar hampir di seluruh penjuru Negeri bahkan sampai-sampai di luar negeri pun ada.
Masyarakat Madura dikenal juga memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Istilah khas disini menunjukkan bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain. Kekhususan- kultural ini antara lain tampak pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka kepada empat figur utama dalam kehidupan yaitu Buppa, Babu, Guruh, ban Ratoh (Ayah, Ibu, Guru dan Pemimpin Pemerintahan). Banyak persepsi masyarakat luar memberikan beberapa penilaian tentang Madura dan masyarakatnya, yaitu:
Pertama, rakyat Madura dinilai mempunyai watak keras, tidak mau mengalah. Penulis tidak tahu secara pasti apa yang mempengaruhi sampai mereka berstatement seperti itu, apa mungkin ada pihak- pihak yang tidak senang terhadap rakyat Madura sehingga ia membesar-besarkan berita yang sebenarnya berita tersebut tidaklah seperti yang ia pahami, dan ia sampaikan, atau berasal dari orang luar Madura yang kebetulan pada saat berkunjung ke Madura menemukan kejadian yang mereka anggap keras, seperti Clurit, dan Carok, atau malah berasal dari rakyat Madura yang tidak paham akan makna budaya Madura terutama Clurit sehingga ia menceritakan, dan menjelaskannya dengan penjelasan yang kurang tepat bahkan salah yang pada akhirnya Clurit identik dengan Carok sehingga Carok secara tidak langsung dianggap menjadi bagian dari budaya Madura. Pandangan ini – Clurit, dan Carok adalah kultur Madura – merupakan pandangan yang sudah tidak
asing lagi didengar dari ungkapan-ungkapan mereka ketika mendengar kata Madura, dan sudah tertanam dengan kuat dalam memori mereka bahwasanya Madura adalah wilayah berdarah yang penuh kekerasan, semua masalah hanya diselesaikan dengan kekerasan, dan pertumpahan darah.
Kedua, SDM rendah, pandangan mereka terhadap permasalahan ini tidak separah anggapan- anggapan terhadap tindakan-tindakan kekerasan yang pernah dilakukan rakyat Madura, ketika perspektif mereka terhadap clurit, dan carok sangat mendominasi mereka – bahkan hampir semua – memori mereka, namun dalam masalah ini masih bisa dibagi menjadi dua bagian, pertama yang menganggap rakyat Madura rendah, dan yang menganggap SDM Madura unggul. Yang menganggap SDM rakyat Madura rendah biasanya dari kalangan yang kurang memperhatikan secara langsung kualitas rakyat Madura, hal ini biasanya banyak terjadi diluar dunia lembaga pendidikan yang tidak berinteraksi langsung dengan rakyat Madura (siswa, atau mahasisiwa madura), atau bisa dikatakan orang-orang yang terpengaruhi oleh data-data jumlah lembaga yang dianggap menjadi ukuran kualitas SDM suatu wilayah tertentu, dalam hal ini biasa dilakukan oleh pemerintah, dan instansi formal lainnya, dan orang yang memandang Madura dari kejauhan, seperti masyarat biasa. Sedikitnya lembaga pendidikan yang ada di Madura, dan terbatasnya universitas berkualits menjadi alasan terkuat untuk mengatakan rakyat Madura adalah rakyat yang awam, tidak mengenal pendidikan, tidak berkompetensi dalam bidang keilmuan, buta teknologi, dan tidak ada yang bisa dibanggakan dari Madura, sehingga muncullah sifat meremehkan terhadap rakyat Madura. Mereka beranggapan bahwa lembaga pendidikan baik sekolah maupun kampus merupakan pusat pembentukan SDM yang berkualitas, jadi bagaimana mungkin SDM bisa berkualitas jika tempat pemproduksinya terbatas (tidak memadai).
Ketiga, kemiskinan yang tidak tertangani. Berdasarkan hasil penelitian, yang tertera dalam buku- buku dan dipeta dunia sekalipun, bahkan realita yang ada, juga menyatakan bahwa pendapatan Madura bisa dikatakan hanyalah pertanian, karena mayoritas dan bahkan hampir keseluruhan rakyat Madura bercocok tanam, diantara yang sangat dibanggakan adalah tembakau, padi, jagung, kacang ijo, dan tanaman- tanaman kecil lainnya. Nah dari kondisi ini bisa ditebak, dan bisa digambarkan suasana perekonomian dimadura. Dan berdasar penelitian pemerintah tentang kondisi perekonomian disana, mereka menyebutkan bahwa pengangguran dimadura sedang merajalela. Sedikitnya lapangan pekerjaan, minimnyanya kreatifitas rakyat Madura menjadikan pengangguran berserakan diberbagai tempat, yang berakibatkan angka kemiskinan yang terus bertambah dari waktu kewaktu. Sempitnya pemikiran rakyat Madura yang menganggap bahwa PNS merupakan profesi yang sangat dan paling menjanjikan juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh/berperan dalam kemerosotan perekonomian dimadura. Padahal jika dicermati masih banyak pekerjaan yang jauh lebih menjanjikan terhadap makmurnya perekonomian disana, misalkan kreativitas diri – kerajinan khas Madura – batik Madura, dan kerajinan lainnya, dan perdagangan (bisnis) juga jauh lebih menguntungkan dari pada PNS. Dari beberapa analisis tadi, hasil musyawarah pemerintah menyebutkan bahwa permasalahan ini hanya bisa ditangani dengan mengadakan perindustrialisasi dikawasan Madura. Ketika perindustrian dibuka para investor akan berbondong-bondong menanamkan modal dimadura, namun masih ada beberapa kecemasan yang ada, dikuatirkan adalah adanya kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada rakyat, jika demikian meskipun perindustrian di Madura berkembang dengan pesat, tapi bisa saja rakyat Madura tidak mempunyai peran sedikitpuan, dan bahkan bisa saja mereka dijadikan budak para investor asing diwilayah sendiri, sehingga yang terjadi bukan ada perbaikan perbaikan perekonomian disana, malah yang ada hanyalah perbudakan, dan pemerasan terhadap rakyat Madura.
Keempat, berwajah paspasan, berpenampilan kolot, dan jadul. Entah darimana dan apa yang membuat beberapa orang di luar madura beranggapan demikian, tapi bisa jadi akibat dari rakyat Madura yang mereka kenal langsung mungkin rata-rata bercirikan seperti itu, sehingga muncullah perspektif yang sesuai dengan realita yang mereka dapatkan. Hal ini bisa dikatakan subyektifitas yang popular di masyarakat di luar Madura. Terlepas dari pandangan persepsi yang terkesan subyektif di atas adalah wajar-wajar saja, karena memang, kadang orang luar Madura kurang arif memberikan penilaian obyektif tentang streotif orang Madura yang sesungguhnya. Khasanah keunikan Madura juga merambah pada nilai – nilai budaya, yang mana hal tersebut perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan. Diantaranya adalah ungkapan-ungkapan seperti: “Manossa coma dharma”, ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. “Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman”, menunjukkan akan berjalin kelindannya budaya Madura dengan nilai-nilai Islam.” Bango’ jhuba’a e ada’ etembang jhuba’ a e budi”, lebih baik jelek di depan daripada jelek di belakang. “Asel ta’ adhina asal”, mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri. “Lakonna lakone, kennengngana kennengnge” sama halnya dengan ungkapan “The right man in the right place”. “Pae” jha’ dhuli palowa, manes jha’ dhuli kalodu”, nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. “Karkar colpe’”, bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang ingin dinikmati.
Keunikan yang lain dari budaya Madura adalah pada dasarnya dibentukdan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan topografis masyarakat Madura yang kebanyakan hidup di daerah pesisir, sehingga mayoritas penduduk Madura memiliki mata pencaharian sebagai nelayan. Bahasan mengenai masyarakat Madura tidak akan lepas pada perkembangan sejarah masa lalu Madura di saat mendalami akar jaman sebelum dan sesudah masa kolonial Belanda.
Sesuai dengan geografi traditional (*Study Prof. DR. Kuntowijoyo) Madura adalah nama yang digunakan untuk sebuah kerajaan, yang kemudian bernama Bangkalan, di wilayah barat pulau utama Madura. Nama Madura ini oleh Belanda pada tahun 1857 dipergunakan untuk menggambarkan keseluruhan pulau yang mereka tetapkan sebagai keresidenan Madura, dengan ibu kota Pamekasan, dan dua asisten keresidenan di Bangkalan dan Sumenep.
Dalam upaya kolonial Belanda untuk menyusutkan kerajaan kerajaan pribumi sampai akhirnya untuk menghapuskan keberadaan kerajaan pribumi, pada tahun 1885 Belanda membagi Madura dalam 4 afdeeling dan 4 kabupaten. Dimana afdeeling dikepalai oleh asisten residen sedangkan kabupaten dikepalai oleh bupati. Pada pertengahan abad XIX pulau Madura banyak memiliki hutan-hutan, oro-ora dan rawa. Pada saat itu masyarakat Madura telah mengolah dengan cara ladang kering atau dikenal dengan istilah tegai, yang pada saat itu bukan hal yang lazim di terapkan. Saat itu di Indonesia masih mengenal 2 ekologi yaitu sawah dan ladang.
Suatu hal di Madura sukar untuk dilacak. Pamanfaatan tanah di Madura mengenal 4 tipe yaitu sawah irigasi, sawah tadah hujan, tegai, dan sawah rawa. Untuk wilayah Madura utara dan selatan kondisi tanah di dominasi oleh susunan batu kapur dan endapan kapur. Kurangnya air dan jenis tanah ini merupakan rintangan besar bagi pertanian di Madura, dimana pertanian yang ada hanya mengandalkan air bawah tanah dan curah hujan. Perencanaan irigasi sebagai salah satu solusi masalah tersebut telah di pikirkan dalam administrasi regional 1884. Hal terbukti dengan adanya laporan resmi tahun 1928, keseluruhan tanah yang telah teririgasi sejumlah 13.111 bau, dengan sebagian besar wilayah barat dan selatan Madura.
Alam telah memaksa masyarakat Madura memilih jenis bibit padi yang mempunyai masa pertumbuhan singkat. Walaupun mereka kesulitan, orang Madura lebih intensif dalam pengolahan tanah dibanding rata rata orang jawa, hal ini terlihat dari tabel hasil panen padi rata-rata per bau, yang menarik pemanfaatan lahan dengan ladang kering (tegai) merupakan studi kasus tersendiri yang menarik perhatian peneliti asing sampai saat ini. Pada abad yang sama juga terjadi penebangan hutan besar- besaran, terutama hutan jati. Mengakibatkan banyak tanah yang tak terpakai dan banyak ditumbuhi alang- alang atau menjadi gundul. Proses penebangan hutan Dengan luasan yang jauh lebih kecil daripada jawa hasil panen yang mereka capai cukup dominan bila dibandingkan dengan Jawa. Tidak hanya padi, secara data sejarah belanda, Madura memegang andil besar dalam produksi jagung.
Intensitas ini bukan berarti menjadikan masyarakat madura makmur. Bagi orang Madura, pemanfaatan bahan makanan pokok tergantung pada tanaman lain juga. Tanaman lain yang memberikan keuntungan bagi orang Madura dalam perdagangan diantaranya asam jawa, kapuk, dan pohon mangga. Walaupun demikian pertumbuhan tembakau di Madura cenderung meningkat, hal ini dikarenakan kemampuan tanaman tembakau beradaptasi terhadap variasi tanah dan kondisi air. Walaupun secara kuantitas meningkat tetapi secara kualitas sedikit mengecewakan karena tidak ada kesamaan standard masing-masing produsen untuk memperoleh nilai mutu yang seragam.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Info Balai V, edisi 08, Desember 20012,21-25
Langganan:
Komentar (Atom)

